Selasa, 20 September 2011

Kamis, Dejan Mulai Pimpin Latihan Persija


 
Pelatih asal Serbia Dejan Gluscevic akan mengawali kiprahnya bersama Persija mulai Rabu, 22 September 2011. Saat ini, Dejan masih harus mendampingi timnas U-14 Singapura berlaga di Korea Selatan.

Persija telah menjalani latihan perdana musim ini di Stadion Lebak Bulus, Jaksel, Senin, 19 September 2011. Namun latihan Bambang Pamungkas dan kawan-kawan masih dipimpin oleh asisten pelatih Macan Kemayoran, Sudirman.
Menurut Sudirman, Dejan belum bisa segera mendampingi Persija. Sebab, Dejan baru tiba di Indonesia, Rabu, 21 September 2011. “Rencananya Dejan baru mulai memimpin latihan Persija, 22 September 2011,” kata Sudirman.
Dejan merupakan pelatih yang diproyeksikan mengisi posisi yang ditinggalkan oleh Rahmad Darmawan. RD-sapaan akrab Rahmad-telah memutuskan untuk menangani timnas U-23. Bersama Macan Kemayoran, Dejan dikontrak selama 2 tahun.

Bambang Pamungkas Luncurkan Buku Otobiografi


Jakarta – Salah satu pemain terbaik yang pernah dilahirkan Indonesia, Bambang Pamungkas, membukukan kemampuannya yang lain yang bukan dengan kaki: menulis otobiografi.
Bertajuk Bepe20: Ketika Jemariku Menari, penyerang klub Persija Jakarta itu secara resmi meluncurkan buku karyanya itu di Kantor Redaksi Bola, Jln. Palmerah Selatan, Jakarta, Sabtu (16/4/2011), dihadiri wartawan dan puluhan penggemarnya.
Pada buku setebal 383 halaman itu Bepe — nama populernya — mengupas perjalanan kariernya, menjawab banyak pertanyaan yang belum diketahui publik, berbagi pandangan dan kritik seputar tim nasional, klub, hingga PSSI.
Menurut pria kelahiran Getas, Kebupaten Semarang, 10 Juni 1980 itu, salah satu alasannya membuat tulisan sendiri dan kemudian mempublikasikannya — bermula dari blog di tahun 2007 — adalah ia ingin masyarakat mengetahui pribadi dan pikiran-pikirannya secara langsung, tidak melulu dari media massa, yang dinilainya kerap bias.
“Saya ‘terpaksa’ menulis karena sering kali saya tidak puas dengan apa yang dikatakan media. Dengan menulis sendiri, tanpa diedit, saya ingin masyarakat bisa tahu kehidupan saya, dari awal sampai sekarang, sebagai pribadi maupun pemain sepakbola,” tutur Bepe.
“Dengan menuliskan apa-apa yang pernah saya alami dan sampaikan, saya bisa terus belajar, termovitasi untuk lebih baik lagi, dan agar saya senantiasa ‘menginjak bumi’.
“Saya juga ingin berbagi pengalaman dengan pemain-pemain lain termasuk untuk generasi setelah saya, bahwa misalnya, tidaklah gampang menjadi pemain timnas. Banyak tekanan ketika kita menjadi pemain timnas,” sambungnya.
Buku tersebut bersampul hitam dengan foto Bepe berpakaian jas gelap berdasi, sambil memegang bola.
Di bagian awal buku terdapat testimoni berbagai kalangann dan juga komentar via akun jejaring sosial Twitter, mulai dari pelatih, manajer, sesama pemain, sampai teman-teman dekatnya.
“There is only 1 MAN, 1 HERO, and 1 LEGEND … His name is … Bambang Pamungkas!” Demikian sebuah testimoni dari penyerang “baru” timnas Indonesia, Irfan Bachdim, di buku tersebut.
Garis besarnya buku Bepe terdiri tiga bagian, yaitu mengulas hal-hal seputar timnas, klub, dan umum. Di tengah-tengahnya disisipi kumpulan foto perjalanan hidup dan karier, serta foto artistik khusus yang dilakukan di dalam studio.
Yang tak kalah menarik, semua hasil penjualan buku akan disumbangkan Bepe kepada dua yayasan yang selama ini mendukung dia, yaitu syair.org (Syair Untuk Sahabat Foundation), serta Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia, sebuah yayasan yang peduli pada anak yang hidup dengan kanker.
“Sebagai manusia kita punya tanggung jawab moral. Saya sempat bertanya pada diri sendiri, ‘saya cuma pemain bola, apa yang bisa saya lakukan?’ Kemudian saya diberitahu ada yayasan ini. Saya juga berharap, lebih banyak lagi orang yang tergerak hatinya untuk membantu saudara-saudara yang tidak seberuntung kita,” tutur bapak tiga anak dan suami Tribuana Tungga Dewi itu.
Saat ditanya alasan memakai kalimat “jemari menari” sebagai judul buku pertamanya itu — tulisan pertama Bepe adalah sebuah surat (terbuka) untuk The Jakmania di tahun 2004 –, dia menjawab:
“Menulis adalah sebuah ekspresi yang tidak memakai kaki, tapi tangan, dan dengan itu saya mengekspresikan pemikiran-pemikiran, pemahaman-pemahaman saya tentang sepakbola dan kehidupan saya.”
“Apa yang saya tuliskan ini adalah sebenar-benarnya, mencoba sangat jujur. Yang salah ya salah, yang bagus saya katakan bagus,” tutup pemilik 86 caps dan pengoleksi 39 gol untuk timnas Indonesia itu (termasuk ujicoba internasional).

ketika seorang legenda diragukan kemampuannya


“ …apa sih prestasi Bambang buat timnas Indonesia??? Gak ada…!!!” itulah komentar teman Saya di Facebook sewaktu mengomentari penampilan Bambang Pamungkas di Piala AFF 2010 Desember kemarin. Saya hanya tersenyum sambil mengelus dada saat melihat komentar teman saya yang merupakan seorang  supporter fanatik salah satu tim papan atas di liga primer Inggris ini. Mungkin jika ia berkata seperti itu di depan para “kaum ultras” Persija, Bisa dipastikan teman saya yang satu ini akan mendapat “tanda terima” dari teman teman “ultras” hehe.
 Bagi kalangan awam, Mendengar nama Bambang Pamungkas mungkin akan terlintas dipikiran mereka bahwa sekarang ini Bambang Pamungkas sudah kehilangan tajinya sebagai salah satu “goal getter” andalan Timnas Indonesia. Apalagi, Timnas Indonesia sudah kedatangan salah satu striker haus gol yang sudah beberapa kali dinobatkan sebagai pencetak gol terbanyak di liga Indonesia belakangan ini. Ya… dia adalah Christian Gonzales.
Kehadiran Christian Gonzales yang resmi menjadi wara Negara Indonesia pada pertengahan 2010 lalu, dan menjalani debutnya di piala AFF dengan mencetak gol ke gawang Malaysia pada pertandingan pertama penyisihan grup di Piala AFF 2010 lalu, membuat nama Bambang Pamungkas semakin tenggelam di dalam lumpur sindiran dan cacian para pendukung  Timnas yang selalu membanding bandingkan penampilan apik Christian Gonzales dengan Bambang Pamungkas.
Coba anda tanyakan bagaimana Bambang Pamungkas kepada mereka yang kenal atau yang sering melihat penampilan Bambang Pamungkas, khususnya para pendukung Persija. Mereka mungkin tidak akan berpikir panjang lagi dan menyebut Bambang Pamungkas adalah salah satu striker yang mempunyai skill mumpuni dan mempunyai intelijensi tinggi sebagai pesepak bola professional. Bagi saya, Bepe, panggilan akrab Bambang Pamungkas, bukan hanya sebagai striker yang haus gol dan mempunyai skill yang mumpuni, tetapi juga sebagai panutan atau teladan yang patut ditiru bagi para pesepakbola muda. Penampilannya yang tenang dan selalu sportif dilapangan membuat para lawan maupun kawan dilapangan hijau memberi respek kepadanya.

Silahkan anda menonton salah satu pertandingan kandang Persija di Gelora Bung Karno. Disana, khususnya di tribun utara anda akan menemukan berbagai banner dan bendera besar yang dibuat oleh para pendukung Persija yang berhubungan atau bergambar Bambang Pamungkas. Itu semua adalah salah satu bentuk kecintaan mereka terhadap Bepe. Dimata para pendukung persija, bepe juga merupakan salah seorang pemain yang loyal terhadap tim Persija. Bahkan,Bambang Pamungkas juga mengungkapkan di dalam bukunya bahwa ia merasa takut bertanding membela tim lain di Lebak Bulus melawan Persija. Bukan karena suporternya, tapi karena ia tak mampu membohongi dirinya kalau ia sangat mencintai Persija Jakarta. Dimata Bepe sendiri, cemoohan dan cacian tersebut merupakan bentuk rasa cinta mereka terhadap Pemain yang bertinggi tubuh 170 cm ini. Memang benar apa yang diucapkan oleh Bepe. semakin kita dicemooh dan diperdebatkan positif dan negatifnya, dengan sendirinya kita akan sadar bahwa keberadaan kita telah diakui oleh masyarakat.
Silahkan anda caci maki dan kubur Bambang Pamungkas dengan cacian anda tersebut. Bagi kami khususnya para pendukung Persija, Bambang pamungkas adalah seorang “the real living legend” yang memberi warna pada permainan Persija. Seorang pemimpin sejati dan kapten di lapangan. Seorang striker oportunis yang selalu menghasilkan gol. Seorang motivator bagi para pemain yang lain.
Tidak ada keraguan bagi kami untuk mengatakan bahwa Bambang Pamungkas adalah salah seorang striker terbaik di Indonesia. Like Irfan Bachdim said : “There is only 1 MAN, 1 HERO, and 1 LEGEND… His name is…. BAMBANG PAMUNGKAS!”